Rabu, 05 Agustus 2015

asuahan keperawatan dislokasi



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang

Dislokasi  atau luksasio adalah  kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi secara komplet / lengkap ( jeffrey m.spivak et al ,1999)  terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi,  Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me lindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah tulang atau dislokasi tulang.
Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehinggaTulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital).




B.     Tujuan
a.       Tujuan Umum
            Untuk mendapatkan gambaran dan mengetahui tentang bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa “dislokasi “ .

b.      Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran  asuhan keperawatan meliputi :
1)      Mampu memberikan gambaran tentang pengkajian kepada klien dengan dislokasi 
2)   Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan dislokasi
3)   Mampu membuat rencana keperawatan pada klien dengan dislokasi
4)   Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan
       pada dislokasi.
  
  
  
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Defenisi
Dislokasi patella adalah terpisahnya tibia dan femor benar-benar menggambarkan suatu kegawatan otorpedik karena hubungan erat kedua tulang tersebut dengan cidera neurovasikuler pada anggota badan yag sakit. (Michael S Jrastemiki, 1995).
Dislokasi patella adalah suatu kondisi lepasnya sendi patella yang berupa dislokasi traumatic dan dislokasi berulang( Arif dan Eko, 2011).
Sprain/ keseleo adalah trauma pada sendi, biasanya berkaitan dengan cidera ligament. (Elizabeth J Croin, 2007).
Dislokasi sendi terjadi ketika tulang bergeser dari posisinya pada sendi. (Elizabeth J Croin, 2007).Keseleo ( cidera ligament) yaitu keadaan rupture total atau parsial pada ligament penyangga yang mengelilingi sebuah sendi. (Kowalak ,Jenifer P,2011).
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan,secara anatomis (tulang lepas dari sendi) (Brunner & Suddarth)Keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera.(Arif Mansyur, dkk. 2000)Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis lokasi.( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138) Berpindahnya ujung tulang patah, karena tonus otot, kontraksi cedera dan tarikan Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi sering di temukan pada orang dewasas dan jarang di temukan pada  anak –anak, biasanya klien jatuh dengan ekerasa dalam keadaan tangan out streched . bagian distal humerus terdorong ke depan melalui kapsul anterior .misalkan oada radius dan ulna mengalami dislokasi pada posterior oleh karna itu brakhialis yang mengalmi robekan pada proseus karanoid .

B.     Etiologi
Penyebab keseleo adalah:
1.      Pemutiran mendadak dengan tenaga lebih kuat  daripada kekuatan ligament dengan menimbulkan gerakan sendi diluar kisarn gerakan (RPS) normal.
2.      Fraktur atau dislokasi yang terjadi bersamaan.

C.     Manifestasi klinis
Tanda dan gejala yang mungin timbul karena keseleo meliputi:
1.      Nyeri local ( khusnya pada saat menggerakkan sendi).
2.      Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
3.      Gangguan mobilitas akibat rasa nyeri (yang baru terjadi beberapa jam baru cidera)
4.      Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah kedalam jaringan sekitarnya






D.    Anatomi fisiologi

a.      Histologi Tulang
Secara histologinya, pertumbuhan tulang di bagi dalam 2 jenis (Arif Musstaqin, 2008) yaitu:
1)      Tulang imatur, terbentuk pada perkembangan emrional dan tidak terlihat lagi pada usia satu tahun. Tulang imatur mengandung jaringan kolagen.
2)      Tulang matur, ada 2 jenis yaitu tulang kortikal dan tulang trabekular.

b.      Komponen Penyusun Tulang
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun atas tiga jenis sel :
1)      Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas menyekresi sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Sebagai fosfatase dari alkali akan memasuki aliran darah sehingga kadar fosfatase alkali dalam darah dapat menjadi indicator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang.
2)       Osteosit adalah sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
3)      Osteoklas adalah sel besar yang berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang diabsorpsi. Tidak seperti osteoblast dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel ini menghasilkan proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas kedalam aliran darah (Arif Mustaqqin, 2008).

 Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun  kurang lebih 25% berat badan dan otot menyusun kurang lebih 50%. Struktur tulang memberikan perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk menyangga struktur tubuh. Otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak, matriks tulang menyimpan kalsium, fosfor, magnesium dan flor. Lebih dari 99% kalsium tubuh total terdapat dalam tulang, sumsum tulang merah yang terletak dalam rongga tulang menghasilkan sel darah merah dan putih dalam proses yang dinamakan hematopoiesis. Kontraksi otot menghasilkan suatu usaha mekanik untuk gerakan maupun produksi panas untuk mempertahankan temperatur tubuh (Brunner & suddarth, 2002).

c.       Fungsi Utama Tulang
Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai fungsi utama yaitu :
1)      Membentuk rangka badan
2)      Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
3)       Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam (seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-paru)
4)      Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium, dan garam.
5)      Ruang ditengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoletik untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit (Arif Mustaqqin, 2008).

E.     Klasifikasi
                     Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Dislokasi kongenital. Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2.      Dislokasi patologik. Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.
3.      Dislokasi traumatik. Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat edema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.
          Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
a.       Dislokasi Akut
                 Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi
b.      Dislokasi Berulang.
                 Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint. Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.
Berdasarkan tempat terjadinya :
1.      Dislokasi Sendi Rahang
                             Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena :
a.       Menguap atau terlalu lebar.
b.      Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya penderita tidak dapat menutup mulutnya kembali.
2.      Dislokasi Sendi Bahu
Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral, berada di anterior dan medial glenoid (dislokasi anterior), di posterior (dislokasi posterior), dan di bawah glenoid (dislokasi inferior).
3.      Dislokasi Sendi Siku
Merupakan mekanisme cederanya biasanya jatuh pada tangan yang dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior dengan siku jelas berubah bentuk dengan kerusakan sambungan tonjolan-tonjolan tulang siku.
4.      Dislokasi Sendi Jari
Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah telapak tangan atau punggung tangan.
5.      Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal dan Interphalangeal
Merupakan dislokasi yang disebabkan oleh hiperekstensi-ekstensi persendian.
6.      Dislokasi Panggul
Bergesernya caput femur dari sendi panggul, berada di posterior dan atas acetabulum (dislokasi posterior), di anterior acetabulum (dislokasi anterior), dan caput femur menembus acetabulum (dislokasi sentra).
      7.  Dislokasi Patella
a)      Paling sering terjadi ke arah lateral.
b)      Reduksi dicapai dengan memberikan tekanan ke arah medial pada sisi lateral patella sambil mengekstensikan lutut perlahan-lahan.
c)      Apabila dislokasi dilakukan berulang-ulang diperlukan stabilisasi secara bedah.
                    Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

F.      Patofisologi
Kalau sebuah ligament rupture maka eksudasi inflamatori akan terjadi dalam hematoma diantara kedua ujung potongan ligament yang putus itu. Jaringan granulasi tumbuh kedalam dari jaringan lunak dan kartilago sekitarnya. Pembentukan kolagen dimulai hingga empat atau lima hari sesudah cidera dan pada akhirnya akan mengatur serabut-serabut tersebut sejajar dengan garis tekanan stress.
Dengan  bantuan jaringan fibrosa yang vesikuler, akhirnya jaringan yang baru tersebut menyatu dengan jaringan disekitarnya. Ketika reorganisasi ini berlanjut, ligament yang baru akan terpisah dari jaringan disekitarnya dan akhirnya menjadi cukup kuat untuk menahan tegangan otot yang normal.

G.    Woc
Ketidakamampuan sendi lutut saatterjadi perubahan posisi kearah lateral kekenduran ligament generalisata
Disokasi patella
Respon psikologis

Ketidakmampuan menggerakkan tungkai bawah terapi mobilisasi gips
Prognosis penyakit
Ansietas

Tindakan pembedahan manipulasi sendi
Penarikkan ligament dan kontraksi otot
Nyeri
Resiko tinggi infeksi
Gangguan mobilitas
 
H.    Penatalaksanaan keperawatan
            Penanganan untuk mengendalikan rasa nyeri dan pembengkakan meliputi:
1.       Imobilisasi sendi yang cidera untuk mempercepat penyembuhan.
2.      Elefasi sendi diatas ketinggian jantung selama 48 hingga 72 jam ( yang segera dilakukan sesuadah cidera ).
3.      Kompres Es secara intermiten selama 12 hingga 48 jam unutk mengendalikan pembengkakan ( letakkan handuk kecil diantara kantung dan kulit untuk mencegah cidera karena hawa dingin).
4.      Pemasangan pembalut elastic/ gips, atau jika keseleo berat, pemasangan gips lunak atau bidai untuk imobilisasi sendi.
5.      Pemberian Codein atau obat analgetik lain( jika cidera berat)
6.      Penggunaan kruk dan pelatihan cara berjalan ( pada keseleo pergelangan kaki).
7.      Pembedahan yang segera dilakukan untuk mempercepat penyembuhan, termasuk penjahitan kedua ujung potongan ligament agar keduanya saling merapat. (contohnya pada sebagian atlit).
8.      Pemasangan sabuk pergelangan kaki atau tangan sebelum melakukan aktivitas olahraga. Pemasangan sabuk ini bertujuan untuk mencegah keseleo.(pada atlet).

I.       Komplikasi
1.      Dislokasi berulang akibat ligament  rupture tersebut tidak sembuh dengan sempurna sehingga diperlukan pembedahan untuk memperbaikinya
2.      Gangguan fungsi ligament ( jika terjadi tarikan otot yang kuat sebelum sembuh dan tarikan tersebut menyebabkan regangan pada ligament yang rupture, mk ligament ini dapat sembuh dengan bentuk memanjang, yang disertai pembentukan jaringan parut secara berlebihan ).



                                                                          BAB III
ASKEP TEORITIS

A.    Pengkajian
1.      Identitas klien
Biasanya berisi nama,alamat, No MR, diagnose medis, tanggal masuk, penanggung jawab dll.

2.      Tanda-tanda vital
a.       Tekanan darah :biasanya Tekanan darah meningkat (>120)
b.      Nadi                : biasanyaNadi meningkat ( >80x/i)
c.       Pernafasan       : biasanya pernafasan (>24x/i)
d.      Suhu                : biasanya suhu (>370C)

3.      Riwayat kesehatan
a.       Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya  klien pernah mengalami fraktur ataupun dislokasi pada daerah yang sama.
b.      Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien mengeluh nyeri pada saat menggerakkan sendi, terjadi pembengkakan dilokasi nyeri dan perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah kedalam jaringan sekitarnya dan gangguan imobilisasi.
c.       Riwayat kesehatan keluarga
            Biasanya tidak ada hubungan genetik antara keluarga dan klien yang mengalami dislokasi. Dan  biasanya  mungkin ada keluarga yang mengalami dislokasi.

4.      Pemeriksaan fisik
a.       Rambut
Biasanya rambut klien berwarna hitam dan tidak ada lesi.

b.      Mata
            biasanya simetris kiri dan kanan, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, tidak terjadi pembengkakan pada mata.
c.       Telinga
biasanya simetris kiri dan kanan, tidak ada menggunakan alat bantu pendengaran
d.      Hidung
bisanya simetris, tidak ada poli dan mukosa hidung tidak terdapat secret.
e.       Mulut
Biasanya  simetris kiri dan kanan biasanya mukosa bibir baik, bibir tidak  pucat, tidak ada pembengkakan tongsil.
f.       Wajah
Biasanya ekspresi wajah klien meringis kesakitan apabila melakukan perubahan posisi lutut.
g.      Leher
Biasanya tidak terjadi distensi pada vena jugularis.
h.      Dada
Inspeksi           : biasanya simetris kiri dan kanan
Palpasi             : biasanya vocal promitus kiri dan kanan
Perkusi            : bisanya terdapat batas-batas jantung
Auskultasi       : biasanya berbunyi veskuler
i.        Abdomen
Inspeksi           : biasanya simetris kiri dan kanan
Auskultasi       : biasanya bising usus normal
Palpasi             : biasanya tidak terjadi nyeri tekan
Perkusi            : biasanya tidak terjadi asites
j.        Genetalia
Biasanya tidak terjadi pembengkakan pada labia dan scrotum. Dan tidak terpasang kateter.

k.      Ekstremitas
Ekstremitas atas
 biasanya simetris kiri dan kanan, biasanya terpasang infus, dan turgor kulit jelek dan tidak terjadi edema.
Ekstremitas bawah
biasanya simetris kiri dan kanan, tidak terjadi edema pada pergelangan kaki, nyeri tekan pada lutut, sendi lutut tidak dapat melakukan ekstensi.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas tulang
2.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan terputusnya kontinuitas tulang
3.      Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

C.     Intervensi keperawatan dengan menggunakan pendekatan NIC dan NOC
NO
DIAGNOSA
INTERVENSI
NIC
NOC
1.
NYERI AKUT
Definisi  :Sensori  yang  tidak menyenangkan dan  pengalaman emosional  yang  muncul  secara  aktual atau potensial, kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan..

Batasan karakteristik :
-          Laporan  secara  verbal  atau  non verbal
-          Fakta dan observasi
-          Gerakan melindungi
-          Tingkah laku berhati-hati
-          Gangguan  tidur  (mata  sayu, tampak  capek,  sulit  atau  gerakan kacau, menyeringai)
-          Tingkah laku distraksi (jalan-jalan, menemui  orang  lain,  aktivitas berulang-ulang)
-          Respon  autonom  (diaphoresis, perubahan  tekanan  darah, perubahan  pola  nafas,  nadi  dan dilatasi pupil)
-          Tingkah laku ekspresif (gelisah, marah,  menangis, merintih, waspada, napas panjang, iritabel)
-          Berfokus pada diri sendiri
-          Fokus menyempit (penurunan persepsi pada  waktu, kerusakan proses berfikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
-          Perubahan  nafsu  makan  dan Minum

Faktor yang berhubungan :
-          Agen injury (fisik, biologis, psikologis).


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24  jam  pasien  dapat  mengontrol  nyeri dengan indicator :
-          Mengenali faktor penyebab
-          Mengenali onset (lamanya sakit)
-          Menggunakan metode pencegahan
-          Menggunakan  metode  nonanalgetik   untuk mengurangi nyeri
-          Menggunakan  analgetik  sesuai kebutuhan
-          Mencari bantuan tenaga kesehatan
-          Melaporkan  gejala  pada  tenaga kesehatan
-          Menggunakan  sumber-sumber  yang tersedia
-          Mengenali gejala-gejala nyeri
-          Mencatat  pengalaman  nyeri sebelumnya
-          Melaporkan nyeri sudah terkontrol
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pasien dapat mengetahui tingkatan nyeri  dengan indicator : 
-          Melaporkan adanya nyeri
-          Luas bagian tubuh yang terpengaruh
-          Frekuensi nyeri
-          Panjangnya episode nyeri
-          Pernyataan nyeri
-          Ekspresi nyeri  pada wajah
-          Posisi tubuh protektif
-          Kurangnya istirahat
-          Ketegangan otot
-          Perubahan pada frekuensi pernafasan
-          Perubahan nadi
-          Perubahan tekanan darah
-          Perubahan ukuran pupil
-          Keringat berlebih
-          Kehilangan selera makan


MANAJEMEN NYERI
Definisi : mengurangi nyeri dan menurunkan tingkat nyeri yang dirasakan pasien.
Intervensi  :
Lakukan  pengkajian  nyeri  secara  komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
-         Observasi  reaksi  non  verbal  dari  ketidaknyamanan
-          Gunakan  teknik  komunikasi  terapeutik  untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
-          Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
-          Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
-          Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang  ketidakefektifan  kontrol  nyeri  masa lampau
-          Bantu  pasien  dan  keluarga  untuk  mencari  dan menemukan dukungan
-          Kontrol  lingkungan  yang  dapat  mempengaruhi nyeri  seperti  suhu  ruangan, pencahayaan  dan kebisingan
-          Kurangi faktor presipitasi
-          Pilih  dan  lakukan penanganan  nyeri (farmakologi,  non  farmakologi  dan  inter personal)
-          Kaji  tipe  dan  sumber  nyeri  untuk  menentukan intervensi
-          Ajarkan tentang teknik non farmakologi
-          Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
-          Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
-          Tingkatkan istirahat
-          Kolaborasikan dengan dokter jika keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

ANALGETIC ADMINISTRATION
Definisi : penggunaan agen  farmakologi untuk menghentikan atau mengurangi nyeri.
Intervensi :
-          Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
-          Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
-          Cek riwayat alergi
-          Pilih analgetik yang diperlukan atau kombinasi dari analgetik ketika pemberian lebih dari satu
-          Tentukan pilihan analgetik tergantung tipe dan beratnya nyeri
-          Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal
-          Pilih  rute  pemberian  secara  IV,  IM  untuk pengobatan nyeri secara teratur
-          Monitor  vital  sign  sebelum  dan  sesudah pemberian analgetik pertama kali
-          Berikan  analgetik  tepat  waktu  terutama  saat nyeri hebat
-          Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala (efek samping)
2.
GANGGUAN MOBILITAS FISIK
Definisi : keterbatasan dalam kebebasan untuk  pergerakan  fisik  tertentu  pada bagian  tubuh  atau  satu  atau  lebih ekstremitas.

Batasan karakteristik :
-         Postur tubuh yang tidak stabil
-         Keterbatasan  kemampuan untuk  melakukan  ketrampilan motorik kasar
      Keterbatasan  kemampuan untuk  melakukan  ketrampilan motorik halus
Tidak ada koordinasi gerakan
-          Keterbatasan ROM
-          Kesulitan berbalik
       Perubahn  gaya  berjalan    (penurunan kecepatan berjalan, kesulitan  memulai  berjalan, langkah  sempit,kaki  diseret, goyangan yang berlebihan pada posisi lateral)
-          Penurunan waktu reaksi
-          Bergerak  menyebabkan  nafas menjadi pendek
-          Usaha  yang  kuat  untuk perubahan  gerak  (peningkatan perhatian  untuk  aktivitas  lain, mengontrol  perilaku,  fokus dalam  anggapan ketidakmampuan aktivitas)
-          Pergerakan yang lambat
-          Bergerak menyebabkan tremor




Faktor yang berhubungan :
-          Pengobatan
-          pembatasan gerak
-          pembatasan gerak
-          Kurang  pengetahuan  tentang bersama  dengan  indikator  klien 
-          pembatasan gerak
-          Kurang  pengetahuan  tentang bersama  dengan  indikator  klien 
-          Kerusakan persepsi sensori
-          Tidak nyaman, nyeri
-          Kerusakan muskuloskeletal dan neuromuskular
-          Intoleransi aktivitas
-          Depresi mood/cemas
-          Kerusakan kognitif
-          Penurunan kekuatan otot
-          Keengganan  untuk  memulai gerak
-          Gaya hidup yang menetap, tidak digunakan
-          Malnutrisi umum atau selektif
-          Kehilangan  integritas  struktur tulang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat melakukan ambulasi berjalan dengan indikator : 
-          Mempertahankan berat badan
-          Melangkah
-          Berjalan lambat
-          Berjalan dengan kecepatan sedang
-          Berjalan dengan kecepatan lebih cepat
-          Berjalan naik tangga
-          Berjalan menuruni tangga
-          Berjalan mendaki
-          Berjalan  dengan  jarak  yang  dekat (keliling kamar)
-          Berjalan  dengan  jarak  yang  sedang   (keluar kamar)
-          Berjalan dengan  jarak  yang  lebih  jauh (mengitari bangsal)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam tingkat mobilitas pasien meningkat dengan indikator: 
-          Keseimbangan tubuh
-          Posisi tubuh
-          Gerakan otot
-          Gerakan sendi
-          Kemampuan berpindah
-          Ambulasi: berjalan
-          Ambulasi: kursi roda
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam pasien dapat melakukan gerakan/pergerakakkan fisik dengan indicator : menggerakakkan jari kaki, tangan, leher, bahu, lutut, pinggang, siku dan pergelangan tangan, menggerakan  jari  kaki,  tangan,  leher,  bahu.
TERAPI AKTIVITAS AMBULASI
Definisi : membantu pasien  memulai  aktivitas fisik untuk memperkuat fungsi tubuh selama perawatan dan melindungi dari sakit atau cedera.
Intervensi :
-          Monitoring  vital  sign  sebelum  dan sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
-          Konsultasikan dengan  fisioterapis  tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan
-          Bantu  klien  untuk  menggunakan  tongkat  saat berjalan dan cegah terhadap cedera
-          Ajarkan  pasien  atau  tenaga  kesehatan  lain tentang teknik ambulasi
-          Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
-          Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri sesuai kemampuan
-          Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu pemenuhan kabutuhan ADL
-          Berikan alat bantu bila pasien memerlukan
-          Ajarkan bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
EXERCISE THERAPY: JOINT MOVEMENT
-          Tentukan batasan gerakan 
-          Kolaborasi dengan fisioterapis  dalam mengembangkan dan  menentukan  program latihan
-          Tentukan level gerakan pasien 
-          Jelaskan pada keluarga/pasien  tujuan  dan rencana latihan
-          Monitor lokasi ketidaknyamanan  atau  nyeri selama gerakan atau aktivitas  lindungi pasien dari trauma selama latihan
-          Bantu pasien untuk mengoptimalkan posisi tubuh untuk gerakan pasif atau aktif
-          Dorong ROM aktif
-          Instruksikan pada pasien atau keluarga tentang  ROM pasif dan aktif
-          Bantu pasien untuk  mengembangkan  rencana latihan ROM aktif
-          Dorong klien untuk menunjukan gerakan tubuh sebelum latihan
3.
KECEMASAN/ANSIETAS
Definisi : perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom ( sumber sering sekali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu,perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat keawaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman.
Batasan karakteristik :
a.   perilaku
-    Penurunan produktivitas
-    Gerakan yang irelevan
-    Melihat sepintas
-    Insomnia
-    Kontak mata yang buruk
-    Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa hidup
-    tampak waspada
-     
b.   afektif
-    gelisah, ketakutan
-    ketakutan
-    rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan
-    khawatir
-    peningkatan rasa yang ketidakberdayaan yang persisten
c.    fisiologis
-    wajah tegang
-    gemetar
-    jantung berdebar-debar
-    peningkatan tekanan darah
factor yang berhubungan
-    kurangnya informasi yang di dapat
-    kurangnya pengetahuan tentang penyakit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam status kekebalan pasien meningkat dengan indilaktor: 
-          Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
-          Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontrol cemas
-          Ekspresi wajah, bahasa, dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya cemas

Anciety reduction ( penurunan kecemasan )
Intervensi :
-          Gunakan poendekatan yang menenangkan
-          Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
-          Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur pengobatan
-          Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi rasa takut
-          Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan takut dan persepisnya terhadapa penyakit yang dia alami
-          Identifikasi tingkat kecemasan pasien
-          Dorong keluarga untuk selalu menemani pasien selama perawatan









BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
            Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
            Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me lindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah tulang atau dislokasi tulang.
            Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehinggaTulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital).

B.     Saran
            Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA


Arif mutataqin. 2011. Buku Saku Gangguan Muskuluskeletal.Jakarta:EGC
Elizabeth J Croin. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Jenifer P Kowalak.2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC
Michael S Jastremski,dkk.2005. Prosedur Kedaruratan.jakarta: EGC


Jumat, 31 Juli 2015

tanda gejala kanker darah stadium awal


Ciri-ciri Penyakit Leukimia Stadium Awal yang Perlu Diketahui dan DiwaspadaiMeskipun ciri-ciri penyakit leukimia tidak dapat segera dikenali karena tidak memiliki ciri-ciri yang jelas, namun sebaiknya masyarakat tetap berusaha mengenal tentang penyakit ini. Leukimia atau kanker darah putih ini termasuk penyakit yang sulit disembuhkan dan bisa berakibat fatal, tetapi dengan deteksi dini dan pengobatan dini sejak masih tahap awal, perkembangan penyakit ini dapat dihambat. Pengobatan dini terhadap penyakit ini akan meningkatkan harapan hidup.
Pengetahuan tentang penyakit-penyakit keras sebenarnya sangat bermanfaat jika diketahui  oleh masyarakat awam. Pasalnya penyakit bukanlah suatu hal yang bisa diprediksikan datangnya. Bahkan orang yang di hari sebelumnya terlihat sehat pun bisa langsung jatuh sakit di hari selanjutnya dan akan memburuk dengan cepat. Tak terkecuali untuk penyakit leukimia, penyakit yang termasuk jarang ditemui di masyarakat ini dapat memburuk dengan cepat, dalam hitungan hari atau minggu, kecuali tipe kronis yang perkembangannya lambat.

Gejala Penyakit Leukimia

Seperti yang tadi ditulis di awal, leukimia tidak memiliki gejala yang jelas, tidak ada satu gejala yang khas merupakan gejala leukimia. Namun demikian leukimia memiliki banyak gejala yang dapat membantu mendeteksi penyakit ini, tetapi karena gejalanya mirip penyakit biasa, maka sebaiknya harus selalu waspada supaya tidak kecolongan.
Ciri-ciri penyakit leukimia pada stadium awal yang mudah dikenali adalah saat penderita terluka dan lukanya berdarah. Jika yang terluka adalah orang normal, darah yang keluar dari tubuh akan segera menggumpal dan aliran darah yang keluar pun akan segera berhenti. Akan tetapi jika yang terluka dan berdarah adalah penderita leukimia atau kanker darah, aliran darah akan sangat sulit dihentikan. Gejala tersebut membuat penderita akan mengalami kekurangan sel darah merah atau anemia. Dan jika dilihat, darah yang dikeluarkan pun tidak berwarna merah pekat, melainkan berwarna merah muda.
Penderita leukimia saat masih dalam stadium awal biasanya akan sering mengalami mimisan atau pendarahan dari hidung. Penyebab mimisannya pun berbeda dengan yang dialami oleh orang normal yang tidak sakit leukimia. Pada umumnya mimisan bisa diakibatkan karena suhu badan yang sangat tinggi. Waktu terjadinya pun biasanya hanya singkat dan darahnya akan segera berhenti keluar. Akan tetapi pada penderita leukimia, mimisan akan sering terjadi dan tidak cepat berhenti, selain itu peristiwa mimisan ini akan disertai dengan rasa pusing yang sangat luar biasa. Nah, jika ternyata selama ini Anda sering mimisan yang dibarengi dengan rasa pusing yang luar biasa, waspadai ciri-ciri penyakit leukimia tersebut dan segera periksakan kesehatan Anda ke dokter.
Gejala penyakit leukimia selanjutnya adalah penderita sering mengalami perdarahan hebat dari gigi dan gusinya. Mungkin pada umumnya ketika seseorang mengalami perdarahan pada bagian tersebut diakibatkan karena kekurangan vitamin C atau karena terkena benda asing dari luar. Darah yang keluar pun mudah dihentikan dan lukanya cepat sembuh. Akan tetapi jika seseorang menderita leukimia, perdarahan yang terjadi cukup sering terulang dan perdarahannya sulit untuk dihentikan karena darah juga sulit membeku.
Selanjutnya, penderita leukimia biasanya sering merasakan nyeri pada persendiannya atau di bagian tulang belakang. Bahkan rasa nyeri yang luar biasa ini bisa membuat penderita mengalami demam tinggi karena tulang belakangnya ternyata sedang diserang oleh sel-sel kanker. Selain nyeri di bagian sendi dan tulang belakang, penderita leukimia juga sering merasakan nyeri di bagian perut. Ciri-ciri penyakit leukimia ini diakibatkan karena sel darah putih yang berlebihan berkumpul di area ginjal, hati dan empedu. Dan yang terjadi adalah organ-organ tubuh tersebut membengkak dan disertai rasa nyeri serta nafsu makan yang makin hari makin berkurang.

Rabu, 29 Juli 2015

Asuhan keperawatan demam typoid

Kumpulan Asuhan keperawatan
Kumpulan Askep
Asuhan Keperawatan
Askep
 
TYPHOID 

A. Pengertian 

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).


B. Etiologi 

Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.


C. Patofisiologi

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.

D. Tanda dan Gejala

Masa tunas typhoid 10 - 14 hari 

  1. Minggu I
    Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
  2. Minggu II
    Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.

E. Pemeriksaan Penunjang 

Pemeriksaan Laboratorium : 

  1. Uji Widal
    Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
    • Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
    • Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
    • Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman).
      Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
  2. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
    SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

F. Penatalaksanaan
 

  1. Perawatan
    • Pasien diistirahatkan 7 hari sampai demam turun atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
    • Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.

  2. Diet
    • Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.
    • Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
    • Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
    • Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
  3. Pengobatan
    1. Klorampenikol
    2. Tiampenikol
    3. Kotrimoxazol
    4. Amoxilin dan ampicillin

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TYPHOID

A. Pengkajian
  1. Riwayat Kesehatan Sekarang
    Mengapa pasien masuk Rumah Sakit dan apa keluahan utama pasien, sehingga dapat ditegakkan prioritas masalah keperawatan yang dapat muncul.
  2. Riwayat Kesehatan Sebelumnya
    Apakah sudah pernah sakit dan dirawat dengan penyakit yang sama.
  3. Riwayat Kesehatan Keluarga
    Apakah ada dalam keluarga pasien yang sakit seperti pasien.
  4. Riwayat Psikososial
    Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas / sedih)
    Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
  5. Pola Fungsi kesehatan
    Pola nutrisi dan metabolisme :
  6. Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada usus halus.
    Pola istirahat dan tidur
  7. Selama sakit pasien merasa tidak dapat istirahat karena pasien merasakan sakit pada perutnya, mual, muntah, kadang diare.
  8. Pemeriksaan Fisik
    • Kesadaran dan keadaan umum pasien
      Kesadaran pasien perlu di kaji dari sadar - tidak sadar (composmentis - coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis penyakit pasien.
    • Tanda - tanda vital dan pemeriksaan fisik Kepala - kaki
      TD, Nadi, Respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur dari keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan dari kepala sampai kaki dengan menggunakan prinsip-prinsip inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi), disamping itu juga penimbangan BB untuk mengetahui adanya penurunan BB karena peningakatan gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan.

B. Masalah Keperawatan yang Muncul 
  1. Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi salmonella thypi.
  2. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi.

C. Intervensi 

Diagnosa Keperwatan 1. : 
Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi salmonella thypi. 
Tujuan : Suhu tubuh normal 
Intervensi : 
  • Observasi suhu tubuh klien
    Rasional : mengetahui perubahan suhu tubuh.
  • Beri kompres dengan air hangat (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas
    Rasional : melancarkan aliran darah dalam pembuluh darah.
  • Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun
    Rasional : menjaga kebersihan badan
  • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik
    Rasional : menurunkan panas dengan obat.

Diagnosa Keperawatan 2. : 
Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat 
Tujuan : Nutrisi kebutuhan tubuh terpenuhi 
Intervensi : 
  • Kaji pola nutrisi klien
    Rasional : mengetahui pola makan, kebiasaan makan, keteraturan waktu makan.
  • Kaji makan yang di sukai dan tidak disukai
    Rasional : meningkatkan status makanan yang disukai dan menghindari pemberian makan yang tidak disukai.
  • Anjurkan tirah baring / pembatasan aktivitas selama fase akut
    Rasional : penghematan tenaga, mengurangi kerja tubuh.
  • Timbang berat badan tiap hari
    Rasional : mengetahui adanya penurunan atau kenaikan berat badan.
  • Anjurkan klien makan sedikit tapi sering
    Rasional : mengurangi kerja usus, menghindari kebosanan makan.
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet
    Rasional : mengetahui makanan apa saja yang dianjurkan dan makanan yang tidak boleh dikonsumsi.

Diagnosa Keperawatan 3. : 
Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi 
Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat 
Intervensi : 
  • Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya
    Rasional : mengetahui apa yang diketahui pasien tentang penyakitnya.
  • Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan pasien
    Rasional : supaya pasien tahu tata laksana penyakit, perawatan dan pencegahan penyakit typhoid.
  • Beri kesempatan pasien dan keluaga pasien untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti
    Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga pasien setelah di beri penjelasan tantang penyakitnya.
  • Beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat
    Rasional : memberikan rasa percaya diri pasien dalam kesembuhan sakitnya.

Senin, 27 Juli 2015

Keperawatan komplementer


TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS


  • Definisi Terapi Komplementer
Menurut WHO (World Health Organization), pengobatan komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina misalnya, jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.
Terapi komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai Pengobatan Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang Konvensional. 
Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Kesehatan Dunia pada tahun 2005, terdapat 75 – 80% dari seluruh penduduk dunia pernah menjalani pengobatan non-konvensional. Di Indonesia sendiri, kepopuleran pengobatan non-konvensional, termasuk pengobatan komplementer ini, bisa diperkirakan dari mulai menjamurnya iklan – iklan terapi non – konvensional di berbagai media

  • Jenis – Jenis Terapi Komplementer
1. Praktek-praktek penyembukan tradisional seperti ayurweda dan akupuntur.
2. Terapi fisik seperti chiropractic, pijat, dan yoga.
3. Homeopati atau jamu-jamuan.
4. Pemanfaatan energi seperti terapi polaritas atau reiki
5. Teknik-teknik relaksasi, termasuk meditasi dan visualisasi.
6. Suplemen diet, seperti vitamin dan mineral

  • Fokus Terapi Komplementer
1. Pasien dengan penyakit jantung.
2. Pasien dengan autis dan hiperaktif
3. Pasien kanker
  • Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer
1. Perawat adalah sebagai pelaku dari terapi komplementer selain dokter dan praktisi terapi.
2. Perawat dapat melakukan intervensi mandiri kepada pasien dalam fungsinya secara holistik dengan memberikan advocate dalam hal keamanan, kenyamanan dan secara ekonomi kepada pasien.
  • Teknik Terapi Komplementer
Di Indonesia ada 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan untuk dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan konvensional, yaitu sebagai berikut :
Akupuntur
Akupunktur medik yang dilakukan oleh dokter umum berdasarkan kompetensinya. Metode yang berasal dari Cina ini diperkirakan sangat bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga sebagai analgesi (pereda nyeri). Cara kerjanya adalah dengan mengaktivasi berbagai molekul signal yang berperan sebagai komunikasi antar sel. Salah satu pelepasan molekul tersebut adalah pelepasan endorphin yang banyak berperan pada sistem tubuh.
Terapi hiperbarik, 
Terapi heperbarik yaitu suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang memiliki tekanan udara 2 – 3 kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal (1 atmosfer), lalu diberi pernapasan oksigen murni (100%). Selama terapi, pasien boleh membaca, minum, atau makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat tingginya tekanan udara
Terapi herbal medik, 
Terapi herbal medic yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam, baik berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun berupa fitofarmaka. Herbal terstandar yaitu herbal yang telah melalui uji preklinik pada cell line atau hewan coba, baik terhadap keamanan maupun efektivitasnya. Terapi dengan menggunakan herbal ini akan diatur lebih lanjut oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dari 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang ada, daya efektivitasnya untuk mengatasi berbagai jenis gangguan penyakit tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya karena masing – masing mempunyai teknik serta fungsinya sendiri – sendiri. Terapi hiperbarik misalnya, umumnya digunakan untuk pasien – pasien dengan gangren supaya tidak perlu dilakukan pengamputasian bagian tubuh. Terapi herbal, berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara, terapi akupunktur berfungsi memperbaiki keadaan umum, meningkatkan sistem imun tubuh, mengatasi konstipasi atau diare, meningkatkan nafsu makan serta menghilangkan atau mengurangi efek samping yang timbul akibat dari pengobatan kanker itu sendiri, seperti mual dan muntah, fatigue (kelelahan) dan neuropati.
  • Persyaratan Dalam Terapi Komplementer
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut :
Sumber daya manusia harus tenaga dokter dan atau dokter gigi yang sudah memiliki kompetensi.
Bahan yang digunakan harus yang sudah terstandar dan dalam bentuk sediaan farmasi.
Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan penelitian harus telah mendapat izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan akan dilakukan pemantauan terus – menerus

Sabtu, 11 Juli 2015

Teori Pemasangan EkG

Prosedur Pemasangan EKG 

Artikel di bawah ini akan menjelaskan tata cara memasang EKG yang benar sesuai standar.

Penggunaan Elektrokardiogram hanya dilakukan :
1. Sesuai indikasi / ketentuan
2. Atas instruksi dokter.


Langkah-langkah pemasangan EKG 
  1. Atur Posisi Pasien, posisi pasien diatur terlentang datar 
  2. Buka dan longgarkan pakaian pasien bagian atas, bila pasien memakai jam tangan, gelang, logam lain agar dilepas 
  3. Bersihkan kotoran dengan menggunakan kapas pada daerah dada, kedua pergelangan tangan dan kedua tungkai dilokasi manset elektroda.
  4. Mengoleskan jelly pada permukaan elektroda.
  5. Memasang manset elektroda pada kedua pergelangan tangan dan kedua tungkai.
  6. Memasang arde.
  7. Menghidupkan monitor Elektrokardiogram.
  8.  Menyambungkan kabel Elektrokardiogram pada kedua tungkai pergelangan tangan dan kedua tungkai pergelangan kaki pasien, untuk rekaman ekstremitas lead (Lead I, II, III, AVR, AVL, AVF) dengan cara : 
  • Warna merah pada pergelangan tangan kanan 
  • Warna hijau pada kaki kiri
  • Warna hitam pada kaki kanan.
  • Warna kuning pada pergelangan tangan kiri.
  • Memasang elektroda dada untuk rekaman precardial lead 
   o V1 pada interkosta keempat garis sternum kanan
   o V2 pada interkosta keempat garis sternum kiri
   o V3 pada pertengahan V2 dan V4
   o V4 pada interkosta kelima garis pertengahan clavikula kiri
   o V5 pada axila sebelah depan kiri
   o V6 pada axila sebelah belakang kiri

   9.   Melakukan kalibrasi dengan kecepatan 25 mili/detik
  10.  Bila rekaman Elektrokardiogram telah lengkap terekam, semua elektroda yang melekat ditubuh pasien dilepas dan dibersihkan seperti semula.
  11.  Pasien dibantu merapihkan pakaian

Catatan :
Harap diperhatikan urutan pemasangan LEAD pada EKG agar tidak terjadi kesalahan interpretasi data yang dikeluarkan oleh EKG itu sendiri.